Sabtu, 12 Januari 2013

Keindahan dan Kebudayaan


1. Hubungan keindahan dengan Kebudayaan
  • Pengertian Kebudayaan

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto Poespowardojo 1993). Selain itu Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Adapun menurut istilah Kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal, tentu saja karena ia tercipta dari hasil rasa, karya, karsa, dan cipta manusia yang kesemuanya merupakan sifat yang hanya ada pada manusia.Tak ada mahluk lain yang memiliki anugrah itu sehingga ia merupakan sesuatu yang agung dan mahal.
Secara detail pengertian kebudayaan adalah Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
Secara hubungan jelas keindahan selalu hadir di setiap kebudayaan , begitu pula di dalam kebudayaan pasti mempunyai nilai nilai keindahan , sehingga keindahan dalam kebudayaan selalu terikat dan menyatu padu secara erat sehingga lahirlah kebudayaan yang terlihat indah.
  • Keindahan Dalam Kebudayaan

Keindahan dalam kebudayaan merupakan keindahan sebagai salah satu sifat manusia dalam karya cipta manusia.
Didalam kebudayaan apapun pasti memiliki nilai keindahan , karena di dalamnya memiliki nilai estetika enak di pandang , dan didalamnya kebudayaan memiliki keindahan yang mewakili sifat-sifat dari keindahan tersebut seperti pada artikel ini keindahan-dan-estetika.
kebudayaan sangat banyak jenisnya , ada yang mewakili nilai nilai Sosial , spiritual , perjuangan , mata pencaharian , kesenian , dan lain lain. dan biasanya orang - orang banyak melihat keindahan yang di tampilkan melalui kesenian dari kebudayaan tersebut , padahal dari jenis kebudayaan yang lain pun terdapat nilai - nilai keindahan di dalamnya.
Kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah. Serta  kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal, tentu saja karena ia tercipta dari hasil rasa, karya, karsa, dan cipta manusia yang kesemuanya merupakan sifat yang hanya ada pada manusia.

 2. Perbedaan Kebudayaan dengan Peradaban

Apakah peradaban dan kebudayaan berbeda ? Kalau kita perhatikan, kata peradaban dalam bahasa Indonesia berkonotasi dengan pengertian adab, kesopanan, kesantunan serta kehalusan. Sedangkan budaya dalam pengertian yang terkenal diartikan sebagai seluruh hasil cipta, rasa dan karsa manusia, setidaknya begitu yang dipahami waktu sekolah dulu. Dalam konteks ini budaya melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia. Dunia melayu menggunakan kata tamadun untuk memaknai peradaban, sebuah kata yang berakar pada bahasa Arab.
Menurut penjelasan 'Effat al Sharqawi, pembedaaan antara kebudayaan dan peradaban dalam bahasa arab bisa ditelusuri dari makna hadharah, tsaqafah dan madaniah. Hadharah berakar pada kata hadhara yang berarti hadir, hadir dalam kondisi baik. Di sini termuat indikasi ruang dan kebaikan. Hadharah berarti hidup menetap di kota sebagai lawan dari badw yang berarti desa, dusun, pengembara. Tsaqafah berkonotasi dengan aspek ide. Tsaqafah berakar pada pengertian memahami secara mendalam, orang yang cerdik dan cermat dan cepat belajar. Sedangkan madaniyah terkait dengan aspek-aspek kehidupan kota, madinah.
Dalam bahasa Inggris dibedakan antara culture dan civilizationCulture berakar pada pertanian, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk ungkapan semangat mendalam suatu masyarakat, mencirikan apa yang dirindukan oleh manusia, yang terefleksi pada seni, moral dan religi. Civilization berakar pada civitas (kota), civility (kesopanan), yang kemudian dimaknai sebagai manifestasi kemajuan mekanis (teknologis), mencirikan apa yang digunakan oleh manusia, yang terefleksi pada politik, ekonomi dan teknologi. Dalam kata-kata Will Durant, civilization is social order promoting cultural creation.
Ibn Khaldun menggunakan terminologi 'umran untuk menggambarkan organisasi sosial manusia. Pengertian 'umran menurut Ibn Khaldun ini, berdasar keterangan Louy Shafi, dipengaruhi oleh penggunaan akar katanya oleh al Qur'an. Al Qur'an menggunakan akar kata 'amara mengacu pada kemunculan kehidupan sosial pada pada area tertentu sebagai akibat menentapnya satu kelompok manusia (surat Hud 61). Makna kedua (surat Rum 30) mengacu pada konstruksi berbagai fasilitas yang diasosiasikan dengan kehidupan sosial yang maju dan superior. 'Umran ini dibedakan menjadi 'umran badawi (bedouin culture) dan 'umran hadhari (civic culture). Kehidupan badawi dicirikan oleh kesederhanaan, kebebasan, persamaan, keberanian spontan, kegembiraan dan kohesifitas ('ashabiah). Kehidupan hadhari dicirikan oleh kompleksitas, pembatasan (restriksi), pembedaan (inequality), menahan diri (inhibitation), kecanggungan (clumsiness) dan interest pribadi (self interest). Perubahan sosial masyarakat mengarah pada ciri-ciri kehidupan hadhari. Tetapi pencapain hadharah juga merupakan awal kejatuhan masyarakat secara etis, yang kemudian menjadi kejatuhan secara sosial-material.
Bennabi mendefinisikan peradaban sebagai keseluruhan sarana moral dan material yang membuat masyarakat memberikan jaminan sosial (ad dhamamat al ijtima'iyah) yang diperlukan oleh anggotanya untuk kemajuan. Atau ia juga mendefinisikan peradaban sebagai objektifikasi kehendak dan kemampuan masyarakat dalam konteks ruang dan waktu. Mengenai kebudayaan, ia membandingkan kebudayaan sebagai jaringan darah yang mensuplai darah kepada organ-organ tubuh. Dalam idenya mengenai orientasi budaya manusia untuk membangun peradaban ia mencirikan muatan kebudayaan itu dengan muatan etis, muatan estetis, muatan logika pragmatik dan muatan industri(shina'ah - aspek rekayasa, engineering).
Sebuah polemik pernah terjadi antara Malik Bennabi dengan Sayyid Qutb. Sayyid Qutb pernah berencana menerbitkan buku yang akan membahas tentang menuju masyarakat Islam yang berperadaban. Tetapi kemudian ia merubah menjadi menuju masyarakat Islam, dengan menghilangkan atribut berperadaban. Bennabi mengkritik ini karena menghilangkan substansi permasalahan yang sesungguhnya pada masyarakat Islam. Dalam Ma'alim fi Thariq, Petunjuk Jalan, Sayyid Qutb menyebut seseorang sebagai muslim Perancis telah memberikan kritik terhadapnya. Kemudian ia menjelaskan substansi yang dimaksudkan olehnya, dalam pemahamannya Islam merupakan kulminasi sifat beradab manusia atau Islam sendiri sama dengan peradaban. Polemik ini mudah kita pahami dengan memahami perbedaan antara peradaban dan budaya (atau hadharah dan tsaqafah). Yang dirujuk oleh Qutb adalah Islam sebagai nilai. Sedangkan yang dirujuk oleh Bennabi adalah manifestasi Islam dalam sejarah dan masyarakat.
Pada sisi lain Sa'id Hawwa dalam bukunya Agar Kita Tidak Dilindas Zaman menggunakan tiga terminologi hadharah, tsaqafah dan madaniyah untuk merujuk makna yang berbeda-beda. Hadharah adalah kata terluas untuk mengacu pada aspek sosio-historis kelompok manusia. Sisi spiritual, nilai, seni, ilmu diwakili oleh tsaqafah. Sedangkan aspek material diwakili oleh kata madaniyah.
Dari tinjauan perbedaan di atas (juga terhadap tinjauan terhadap teori-teori peradaban pada posting sebelumnya) setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita cirikan dari perbedaan peradaban dan kebudayaan.
  1. Peradaban (hadharah, civilization) berakar pada ide tentang kota. Kemajuan material (ilmu dan teknologi), aspek kehalusan, penataan sosial dan aspek kemajuan lain.
  2. Kebudayaan (culture, tsaqafah) berakar pada ide mengenai nilai, tujuan, pemikiran yang ditransmisikan melalui ilmu, seni dan agama suatu masyarakat.
  3. Kebudayaan dan peradaban merupakan aspek-aspek kehidupan sosial manusia. Sebuah deskripsi mengenai kontras-kontras antara kebudayaan dan peradaban dijelaskan secara menarik oleh Alija Izebegovic dalam Membangun Jalan Tengah. Karena peradaban dan kebudayaan adalah dua aspek dalam kehidupan manusia, ada interelasi antara keduanya. Sebagaimana interelasi antara aspek spiritual, mental dan material dalam diri manusia.
  4. Ide utama yang terkandung dalam peradaban adalah kemajuan, perkembangan (progress dan development). Tetapi sebuah masyarakat memiliki nilai-nilai, pemikiran-pemikiran dasar yang tetap, yang menjadi identitas kulturalnya. Nilai-nilai yang tidak hilang begitu saja ketika sebuah peradaban mundur atau hancur. Yang terjadi adalah nilai-nilai itu menjadi tidak efektif secara sosial.
  5. Sebuah peradaban mengalami siklus dalam ruang dan waktu. Ia mengalami pasang dan surut. Sedang kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu. Ia memiliki ukuran tersendiri (ukuran benar salah, tepat tidak atau berguna tidak) di dunai pemikiran.
  6. Membangun peradaban tidak bisa dengan sekedar menumpuk-numpuk produk peradaban lain. Sebuah peradaban diukur dari pencapaiannya.
  7. Untuk membangun peradaban perlu adanya jaringan sosial (dalam terminologi Bennabi) atau inovasi sosial (dalam terminologi Drucker) yang menciptakan pranata (institusi) sosial yang memungkinkannya menerima dan mengembangkan produk-produk peradaban lain dalam konteks kebudayaan sendiri.

3. Sistem nilai Budaya
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Hal ni disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup. Sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para masyarakat tadi. (Koentjaraningrat, 1983 : 192)
Secara praktis dan singkat, kebudayaan dapat diartikan sebagai sistem nilai dan gagasan utama (vital). Sistem nilai dan gagasan utama itu dihayati benar-benar oleh para pendukung kebudayaan bersangkutan dalam kurun waktu tertentu, sehingga mendominasi keseluruhan kehidupan para pendukung itu, dalam arti mengarahkan tingkah laku mereka di dalam masyarakatnya. Sistem nilai dan gagasan utama itu memberi pola untuk bertingkah laku kepada masyarakatnya, atau dengan kata lain, memberi seperangkat model untuk bertingkah laku.
Sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagai suatu warga masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga bagi hidupnya. Karena itu suatu sistem nilai budaya, menjadi bagian dari kebudayaan yang berperan sebagai pengarah dan pendorong kelakuan manusia. Tetapi karena sistem nilai budaya itu hanya merupakan konsep-konsep abstrak, tanpa perumusan yang tegas, maka konsep-konsep itu biasanya hanya bisa dirasakan, seringkali tidak dapat dinyatakan dengan tegas oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
Hal ini justru karena sering hanya dapat dirasakan dan tidak dirumuskan dengan akan yang rasional, maka konsep-konsep itu seringkali amat mendarah daging dan sukar dirubah atau diganti dengan konsep-konsep lain. Kalau sistem nilai budaya itu menjadi pengarah bagi tindakan manusia, maka pedomannya yang nyata adalah norma-norma, hukum dan aturan ; yang biasanya memang bersifat tegas dan konkrit. Adapun norma-norma hukum dan aturan-aturan itu (selayaknya) bersumber pada sistem nilai budaya dan ia merupakan perincian dari konsep-konsep abstrak dalam sistem itu.
Kajian tentang kepemimpinan dalam konteks sistem nilai budaya, dengan kata lain meninjau dan memahami sistem nilai budaya yang dimiliki oleh para pemimpin dan pengikutnya. Pola perilaku kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai budayanya.
Secara universal, semua sistem nilai budaya yang ada didunia ini dapat dikategorikan dalam lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia, yaitu:
1.      Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia.
2.      Masalah mengenai hakekat dari karya manusia.
3.      Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu.
4.      Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
5.      Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan        

      4. Dampak perubahan sistem nilai Budaya

      Apabila terjadi perubahan pada system nilai budaya maka akan terjadi juga perubahan sikap mental, pola pikir, dan pola tingkah laku anggota masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Aspek kehidupan manusia dapat dibedakan menjadi dua yaitu manusiawi dan tidak manusiawi. Aspek kehidupan manusiawi diungkapkan sesuai dengan system nilai budaya sebagai pandanagan hidup, melalui sikap salaing menyayangi, melindungi, menghargai, dan lainnya yang dirasakan sebagai keindahan hidup. Sebaiknya aspek kehidupan tidak manusiawi diungkapkan melalui sikap dan perbuatan yang merugikan, menggelisahkan, dan menjadikan manusia menderita. Ungkapan berbagai aspek kehidupan akan dijabarkan menjadi beberapa tema pengkajian Ilmu Sosial Budaya Dasar

Sumber: PDF (Dampak perubahan sistem nilai Budaya)


Sabtu, 17 November 2012

Psikologi Klinis


Mengingat Untuk Melupakan: Pengaruh Amnesic dari Melamun

Ketika pikiran Anda melayang mengingat kenangan lama ataupun sedang melamun, sulit untuk mengingat dan merasakan apa yang terjadi baru-baru ini. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa dampak tersebut akan terasa lebih kuat, ketika pikiran Anda melayang jauh, misalnya anda memikirkan kenangan liburan di luar negeri, saat pacaran dahulu, atau mengingat kenangan di masa lalu yang lebih lama telah terjadi.

Studi sebelumnya juga menemukan bahwa bila pikiran anda melayang dan melamun memikirkan kenangan masa lalu, akan memblok akses pada ingatan yang baru masuk. Peneliti psikologi, Peter F. Delaney dan Lili Sahakyan dari University of North Carolina at Greensboro;dan Colleen M. Kelley dan Carissa A. Zimmerman dari Florida State University ingin mengetahui apakah isi dari lamunan dapat mempengaruhi kita dalam mengakses memori yang baru masuk.
Dalam penelitian ini, masing-masing peserta melihat sebuah daftar kata-kata yang muncul di layar komputer, satu per satu. Kemudian mereka diminta untuk berpikir tentang rumah (di mana dan apa yang mereka telah lakukan pagi tadi) atau memikirkan apa yang mereka lakukan seminggu lalu.
Selanjutnya, peserta ditunjukkan daftar kata-kata kedua. Pada akhir tes, mereka harus mengingat kata-kata dari dua daftar tersebut sebanyak mungkin. Hasil menunjukkan, mereka yang mengingat daftar kedua lebih banyak mengingat kata-kata tersebut dibandingkan dengan daftar pertama.
Studi ini dipublikasikan dalam Psychological Science dikutip dari Science Daily, sebuah jurnal dari Association for Psychological Science.
Salah satu aplikasi praktis dari penelitian ini, bagi orang yang ingin melupakan sesuatu. Jika ada sesuatu yang tidak ingin Anda ingat dan rasakan, lebih baik mengingat sebuah kenangan masa lalu Anda. Cobalah untuk menempatkan kenangan masa lalu itu dari pikiran Anda untuk sementara. Ini dapat membantu Anda merasakan seperti apa yang Anda rasakan ketika berada dalam situasi itu.

Kalimat

    Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek (S) dan predikat (P) dan intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi final kalimat dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Penetapan struktur minimal S dan P dalam hal ini menunjukkan kalimat bukanlah semata-mata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai kesatuan bentuk. lengkap dengan makna menunjukkan sebuah kalimat harus mengandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkap maksud penuturnya.


UNSUR KALIMAT

1. Subjek
       
       Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pangkal atau pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nomina), klausa, atau frasa verbal. untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.
  • Ayahku sedang melukis.
  • Meja direktur besar.
  • Yang berbaju batik dosen saya.
  • Berjalan kaki menyehatkan badan.
  • Membangun jalan layang sangat mahal.
Selain ciri di atas, S juga dapat dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang)... atau apa (yang)... kepada P. kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh "kalimat" yang tidak mempunyai Skarena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
  • Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
  • Di sini melayani resep obat generik.
  • Melamun sepanjang malam.
2. Predikat

       Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana S(pelaku, tokoh, atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberi tahu tindakan atau perbuatan S, predikat dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. Termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki S. Predikat dapat berupa kata, frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut ini.
  • Kuda meringkik.
  • Ibu sedang tidur siang.
  • Putrinya cantik jelita.
  • Kota Jakarta dalam keadaan aman.
  • Kucingku belang tiga.
  • Robby mahasiswa baru.
  • Rumah Pak Hartawan lima.
        Tuturan di bawah ini tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata yang menunjukkan perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku/bendanya.
  • Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
  • Knator kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
  • Bandung yang terkenal sebagai kota kembang.
3. Objek

        Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nomina, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O seperti pada contoh di bawah ini.
  • Nurul menimang ....
  • Arsitek merancang ....
  • Juru masak menggoreng ....
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh di atas adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P bagi ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek.
Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitif mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
  • Nenek mandi.
  • Komputerku rusak.
  • Tamunya pulang.
       Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya dibelakang dan lihat ubahan posisinya bila kalimatnya dipasifkan.
  • John Smith membeli barang antik [O]
          Barang antik [S] dibeli oleh John Smith.

4. Pelengkap

        Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti ini juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan contoh di bawah ini.

     a.  Ketua MPR // membacakan // Pancasila
                   S                     P                 O

     b   Banyak orsospol // berlandaskan // Pancasila.
                      S                        P                  Pel
Kedua kalimat aktif a dan b yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan, ternyata yang bisa hanya kalimat a yang menempatkan Pancasila sebagai O.

5. Keterangan

        Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat manasuka, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nomina, frasa preposisional, adverbia, atau klausa.
        Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi keterangan atas sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998: 366) yaitu seperti yang tertera dalam contoh di bawah ini.
  • Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum dari kulkas.(ket. tempat)
  • Rustam Lubis sekarang sedang belajar. (ket. waktu)
  • Lia memotong roti dengan pisau. (ket. alat)
  • Anak yang baik itu rela berkorban demi orang tuanya. (ket. tujuan)
  • Polisi menyelidiki masalah itu dengan hati-hati. (ket. cara)
  • Amir Burhan pergi dengan teman-teman sekantornya. (ket. penyerta)
  • Mahasiswa hukum itu berdebat bagaikan pengacara. (ket. similatif)
  • Karena malas belajar, mahasiswa itu tidak lulus. (ket. penyebaban)
  • Murid-murid TK berpegangan satu sama lain. (ket. kesalingan)

JENIS KALIMAT

Kalimat dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa jenis menurut
1.  Jumlah klausa pembentuknya :
  • Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. kalimat tunggal hanya mengandung satu unsur S, P, O, Pel, Ket. Tentu saja kelima unsur itu tidak harus muncul semua sekaligus karena unsur minimal sebuah kalimat adalah S dan P. karena unsur pembentuk utamanya yaitu S dan P yang serba tunggal itulah kalimatnya dinamakan kalimat tunggal.
contoh :  -  Kami mahasiswa Indonesia.
              -  Jawaban anak pintar itu sangat tepat.
              -  Sapi-sapi sedang merumput.
              -  Mobil orang kaya itu ada delapan.
  • Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. ada dua jenis kalimat majemuk, yaitu :

(1)  Kalimat Majemuk Setara
ciri-cirinya :  -  dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal.
                   -  kedudukan tiap kalimat sederajat.
contoh :
-   Erni mengonsep surat itu dan Rini mengetiknya
-   Yusril rajin membaca, baik sewaktu menjadi mahasiswa maupun setelah bekerja
-   Muridnya kaya, tetapi ia sendiri miskin.
-   Para peserta seminar sudah mulai datang, sedangkan panitia belum siap.
-   Engkau tinggal di sini, atau ikut dengan saya.
-   Ia memarkir mobilnya di lantai satu, lalu naik lift ke lantai 7.

(2)  Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat berbeda konstruksinya dengan kalimat majemuk setara. Perbedaannya terletak pada derajat klausa pembentuknya yang tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Karena itu konjungtor yang menghubungkan klausa-klausa kalimat majemuk bertingkat juga berbeda dengan konjungtor pada kalimat majemuk setara.
contoh :
-   Dia datang ketika kami sedang rapat.
-   Lalu lintas akan  teratur andaikata pemakai jalan berdisiplin tinggi.
-   Anda harus bekerja keras agar dapat berhasil.
-   Semangat belajarnya tetap tinggi walaupun usianya sudah lanjut.
-   Aku memahaminya sebagaimana ia memahamiku.
-   Anita menjadi mahasiswa teladan karena tekun, cerdas, dan sopan.

2.  Fungsinya
  • Kalimat Berita (deklaratif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk menyatakan suatu berita kepada mitra komunikasinya. Contoh : Terjadi perdebatan seru dalam diskusi ilmiah kemarin di kampus.
  • Kalimat Tanya (interogatif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. contoh : Siapa tokoh pendiri Perguruan Taman Siswa ?
  • Kalimat Perintah (imperatif) dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu. Contoh : Tolonglah bawa sepeda motor ini ke bengkel.
  • Kalimat Seru (ekslamatif) dipakai oleh penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Contoh : Aduh, saya terpeleset !
  • Kalimat Tak Lengkap (kalimat minor) adalah kalimat yang tidak berpredikat atau bersubjek. Contoh : ya, tidak, belum, sudah, awas!, jangan!, selamat jalan, dsb.
  • Kalimat Inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S. Contoh : Menangis Pacarku kemarin karena sedihnya.