Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 November 2012

Kalimat

    Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek (S) dan predikat (P) dan intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi final kalimat dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Penetapan struktur minimal S dan P dalam hal ini menunjukkan kalimat bukanlah semata-mata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai kesatuan bentuk. lengkap dengan makna menunjukkan sebuah kalimat harus mengandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkap maksud penuturnya.


UNSUR KALIMAT

1. Subjek
       
       Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pangkal atau pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nomina), klausa, atau frasa verbal. untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.
  • Ayahku sedang melukis.
  • Meja direktur besar.
  • Yang berbaju batik dosen saya.
  • Berjalan kaki menyehatkan badan.
  • Membangun jalan layang sangat mahal.
Selain ciri di atas, S juga dapat dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang)... atau apa (yang)... kepada P. kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh "kalimat" yang tidak mempunyai Skarena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
  • Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
  • Di sini melayani resep obat generik.
  • Melamun sepanjang malam.
2. Predikat

       Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana S(pelaku, tokoh, atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberi tahu tindakan atau perbuatan S, predikat dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. Termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki S. Predikat dapat berupa kata, frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut ini.
  • Kuda meringkik.
  • Ibu sedang tidur siang.
  • Putrinya cantik jelita.
  • Kota Jakarta dalam keadaan aman.
  • Kucingku belang tiga.
  • Robby mahasiswa baru.
  • Rumah Pak Hartawan lima.
        Tuturan di bawah ini tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata yang menunjukkan perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku/bendanya.
  • Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
  • Knator kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
  • Bandung yang terkenal sebagai kota kembang.
3. Objek

        Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nomina, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O seperti pada contoh di bawah ini.
  • Nurul menimang ....
  • Arsitek merancang ....
  • Juru masak menggoreng ....
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh di atas adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P bagi ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek.
Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitif mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
  • Nenek mandi.
  • Komputerku rusak.
  • Tamunya pulang.
       Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya dibelakang dan lihat ubahan posisinya bila kalimatnya dipasifkan.
  • John Smith membeli barang antik [O]
          Barang antik [S] dibeli oleh John Smith.

4. Pelengkap

        Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti ini juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan contoh di bawah ini.

     a.  Ketua MPR // membacakan // Pancasila
                   S                     P                 O

     b   Banyak orsospol // berlandaskan // Pancasila.
                      S                        P                  Pel
Kedua kalimat aktif a dan b yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan, ternyata yang bisa hanya kalimat a yang menempatkan Pancasila sebagai O.

5. Keterangan

        Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat manasuka, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nomina, frasa preposisional, adverbia, atau klausa.
        Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi keterangan atas sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998: 366) yaitu seperti yang tertera dalam contoh di bawah ini.
  • Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum dari kulkas.(ket. tempat)
  • Rustam Lubis sekarang sedang belajar. (ket. waktu)
  • Lia memotong roti dengan pisau. (ket. alat)
  • Anak yang baik itu rela berkorban demi orang tuanya. (ket. tujuan)
  • Polisi menyelidiki masalah itu dengan hati-hati. (ket. cara)
  • Amir Burhan pergi dengan teman-teman sekantornya. (ket. penyerta)
  • Mahasiswa hukum itu berdebat bagaikan pengacara. (ket. similatif)
  • Karena malas belajar, mahasiswa itu tidak lulus. (ket. penyebaban)
  • Murid-murid TK berpegangan satu sama lain. (ket. kesalingan)

JENIS KALIMAT

Kalimat dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa jenis menurut
1.  Jumlah klausa pembentuknya :
  • Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. kalimat tunggal hanya mengandung satu unsur S, P, O, Pel, Ket. Tentu saja kelima unsur itu tidak harus muncul semua sekaligus karena unsur minimal sebuah kalimat adalah S dan P. karena unsur pembentuk utamanya yaitu S dan P yang serba tunggal itulah kalimatnya dinamakan kalimat tunggal.
contoh :  -  Kami mahasiswa Indonesia.
              -  Jawaban anak pintar itu sangat tepat.
              -  Sapi-sapi sedang merumput.
              -  Mobil orang kaya itu ada delapan.
  • Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. ada dua jenis kalimat majemuk, yaitu :

(1)  Kalimat Majemuk Setara
ciri-cirinya :  -  dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal.
                   -  kedudukan tiap kalimat sederajat.
contoh :
-   Erni mengonsep surat itu dan Rini mengetiknya
-   Yusril rajin membaca, baik sewaktu menjadi mahasiswa maupun setelah bekerja
-   Muridnya kaya, tetapi ia sendiri miskin.
-   Para peserta seminar sudah mulai datang, sedangkan panitia belum siap.
-   Engkau tinggal di sini, atau ikut dengan saya.
-   Ia memarkir mobilnya di lantai satu, lalu naik lift ke lantai 7.

(2)  Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat berbeda konstruksinya dengan kalimat majemuk setara. Perbedaannya terletak pada derajat klausa pembentuknya yang tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Karena itu konjungtor yang menghubungkan klausa-klausa kalimat majemuk bertingkat juga berbeda dengan konjungtor pada kalimat majemuk setara.
contoh :
-   Dia datang ketika kami sedang rapat.
-   Lalu lintas akan  teratur andaikata pemakai jalan berdisiplin tinggi.
-   Anda harus bekerja keras agar dapat berhasil.
-   Semangat belajarnya tetap tinggi walaupun usianya sudah lanjut.
-   Aku memahaminya sebagaimana ia memahamiku.
-   Anita menjadi mahasiswa teladan karena tekun, cerdas, dan sopan.

2.  Fungsinya
  • Kalimat Berita (deklaratif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk menyatakan suatu berita kepada mitra komunikasinya. Contoh : Terjadi perdebatan seru dalam diskusi ilmiah kemarin di kampus.
  • Kalimat Tanya (interogatif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. contoh : Siapa tokoh pendiri Perguruan Taman Siswa ?
  • Kalimat Perintah (imperatif) dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu. Contoh : Tolonglah bawa sepeda motor ini ke bengkel.
  • Kalimat Seru (ekslamatif) dipakai oleh penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Contoh : Aduh, saya terpeleset !
  • Kalimat Tak Lengkap (kalimat minor) adalah kalimat yang tidak berpredikat atau bersubjek. Contoh : ya, tidak, belum, sudah, awas!, jangan!, selamat jalan, dsb.
  • Kalimat Inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S. Contoh : Menangis Pacarku kemarin karena sedihnya.

Kamis, 15 November 2012

Kalimat Efektif

    Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penulis/penutur secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pembaca/ pendengar. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/ pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.


Untuk dapat mencapai keefektifan tersebut di atas, kalimat efektif harus memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya :
  1. Kesatuan
Yang dimaksud dengan kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat.
Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya :
  • Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit. (terdapat subjek ganda dalam kalimat tunggal).
  • Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik (memakai kata depan yang salah sehingga gagasan kalimat menjadi kacau)
  • berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengaruh kepada pegawai baru. (tidak jelas siapa memberi pengarahan).
Contoh kalimat yang jelas kesatuan gagasannya :
  • Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit untuk membangun sekolah baru.
  • Pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik.
  • (a) Berdasarkan agenda, sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.
  • (b) Berdasarkan agenda sekretaris, manajer personalia akan memberikan pengarahan kepada pegawai baru. 
      2. Kepaduan (koherensi)

Yang dimaksud dengan koherensi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termaksud unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, serta tanda baca yang membentuk S-P-O-Pel-Ket dalam kalimat.

Contoh kalimat yang unsurnya tidak koheren :
  • Kepada setiap pengendara mobil di kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi. (tidak memiliki subjek/ subjeknya tidak jelas)
  • Saya punya rumah baru saja diperbaiki. (struktur kalimat tidak benar/rancu)
  • Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani. (unsur S-P-O tidak berkaitan erat)
  • Yang sayasudah sarankan kepadamereka adalah merevisi anggaran darpada itu proyek. (salah dalam pemakaian kata dan frasa)
Contoh kalimat yang unsur-unsurnya koheren :
  • Setiap pengendara mobil di kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi.
  • Rumah saya baru saja diperbaiki.
  • Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.
  • Yang sudah saya sarankan kepada mereka adalah merevisi anggaran proyek itu.
      3. Keparalelan

Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran adalah terdapat unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.

Contoh kesejajaran atau paralelisme yang salah :
  • Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan buku-buku yang diberi label.
  • Kakakmu menjadi dosen atau sebagai pengusaha ?
  • Demikianlah agar ibu maklum, dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
  • Dalam rapat itu diputuskan tiga hal pokok, yaitu peningkatan mutu produk, memperbanyak waktu penyiaran iklan, dan pemasaran yang lebih gencar.
Contoh kesejajaran atau paralelisme yang benar :
  • Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dan pelabelan buku.
  • Kakakmu menjadi dosen atau menjadi pengusaha.
  • Demikianlah agar Ibu maklum, dan atas perhatian Ibu, saya ucapkan terima kasih.
  • Dalam rapat itu diputuskan tiga hal pokok, yaitu meningkatkan mutu produk, meninggikan frekuensi iklan, dan menggencarkan pemasaran.
      4. Penekanan

Yang dimaksud dengan penekanan ialah terjadinya suatu perlakuan khusus pada kata tertentu dalam kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk memberi perlakuan khusus pada kata-kata tertentu, yaitu :
(1)  dengan meletakkan kata yang ingin ditonjolkan di awal kalimat.
(2)  dengan melakukan pengulangan kata.
(3)  dengan melakukan pengontrasan kata kunci.
(4)  dengan menggunakan partikel penegas.

Contoh penekanan dengan menempatkan kata yang ditonjolkan pada awal kalimat :
  • Pada bulan Desember kita ujian akhir semester (bukan bulan November) 
  • Kita akan ujian akhir semester pada bulan Desember (bukan mereka)
Contoh penekanan dengan pengulangan kata :
  • Saya senang melihat panorama yang indah; saya senang melihat lukisan yang indah; dan saya juga senang melihat hasil seni ukir yang indah.
Contoh penekanan dengan pengontrasan kata kunci :
  • Penduduk desa itu tidak menghendaki bantuan yang bersifat sementara, tetapi bantuan yang bersifat permanen.
Contoh penekanan dengan menggunakan partikel penegas :
  • Hendak pulang pun hari sudah gelap dan hujan pula.
      5. Kehematan

Yang dimaksud dengan kehematan ialah adanya upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. hemat di sini berarti tidak memakai kata-kata mubazir; tidak mengulang subjek; tidak menjamak kata yang memang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata, diharapkan kalimat menjadi padat berisi.

Contoh kalimat yang tidak hemat kata :
  • Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa mahasiswa itu belajar seharian dari pagi hingga petang.
  • Manajer itu dengan segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan direkturnya.
Contoh kalimat yang hemat kata :
  • Saya melihat sendiri mahasiswa itu belajar seharian.
  • Manajer itu segera mengubah rencana setelah bertemu direkturnya.
      6. Kelogisan

Yang dimaksud dengan kelogisan ialah terdapatnya kalimat yang logis/masuk akal. Logis dalam hal ini juga menuntut adanya pola pikir yang sistematis (runtut, teratur, dalam perhitungan angka dan penomoran)
Contoh kalimat yang lemah dari segi logika berbahasa :
  • Kambing sangat senang bermain hujan. (padahal kambing tergolong binatang yang anti air)
  • Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki. (apa hubungannya tinggal di asrama putra dengan mempunyai anak laki-laki)
  • Kepada Bapak (Dekan), waktu dan tempat kami persilahkan. (waktu dan tempat tidak perlu dipersilakan)